Langsung ke konten utama

Cerita Pendek : Mawar Jingga

    


    Malam mencapai puncaknya dengan ditemani segelas kopi hangat, aku dihadapkan dengan setumpuk tulisan yang harus disalin. Tiba-tiba dering gadgetku mengganggu keseriusan.

"Hallo di"

"Iya Mawar, ada apa?"

"Gimana kamu mau ikut gak camping weekend?"

"boleh kita bertiga aja kan ama reza"

"iya di, besok dikabarin tempatnya"

"besok jangan lupa jemput ya jangan telat lagi, Selamat malam adi"

"iya iya bawel"

    Mawar seorang perempuan yang kuanggap sahabat. Perempuan dengan sejuta kehangatan, penenang untuk aku dan reza. Sejak awal kuliah kami bertiga sudah bersahabat dan sekarang bekerja ditempat yang sama. Mawar seperti namanya, dia menyukai bunga mawar berwarna jingga. Dia selalu meminta aku dan reza untuk memberikan bunga mawar setiap kami berdua datang kerumahnya.
    
    Setiap berangkat kerja aku pasti menjemput mawar. Bersama vespa sebagai saranaku bekerja, aku menunggu mawar didepan rumahnya.

"Gitu dong di jangan telat mulu"

"iya bawel kemarin itu ada kendala, udah ayok berangkat"

    Aku masih bingung terhadap mawar kenapa dia selalu meminta jemput padahal ada reza yang selalu nawarin dia untuk berangkat kerja menggunakan mobil. Aku tidak pernah bertanya soal itu, yang jelas aku senang bisa berduaan sama mawar.

    Mawar selalu berbagi perhatiaannya terhadap kami berdua dan menurut dia itu adil sebagai sahabat. Disaat sedang berdua mawar aku biasanya menceritakan orang yang aku suka, aku memancing dia agar cerita siapa yang ada dihatinya sekarang. Tetapi, itu terlalu sulit dia selalu menutupi soal perasaannya walaupun kami sudah bersahabat sejak lama.

    Sabtu, hari dimana rencana kami bertiga dimulai. Aku menunggu diteras rumah dengan barang-barang yang telah aku persiapkan. Menunggu reza yang sedang menjemput mawar sang putri salju kami berdua. Aku sering berfikir apa yang mereka bicarakan bila sedang berdua? apakah reza menaruh hati kepada mawar atau malah sebaliknya?

"Adi....." Terdengar suara mawar di luar pagar.
"Iya iya, bagasi nya za"

    Aku merasa aneh ketika melihat mawar dan reza duduk berdua. Sepanjang jalan aku selalu melihat tingkah mawar yang merasa nyaman bila disamping reza.

    Hari ini aku membawa bunga mawar berwarna jingga yang akan kugunakan untuk mengungkapkan perasaan yang sudah lama aku pendam terhadap mawar. Aku meyakini diri dengan mengingat perhatian dia kepadaku yang tidak selayak dilakukan sebagai sahabat. Aku tau ini sulit bagi kami sebagai sahabat tidak seharusnya punya perasaan cinta. Tetapi, apakah aku harus memendam perasaan cinta terus menerus. Aku rasa untuk saat ini berhenti menggunakan ego sahabat.

    Kami disambut senja danau berwarna jingga. Mawar sangat menaruh hati kepada senja, dia berlari kegirangan dengan senyum lepas yang tidak biasa.

"eja adi dirikan tenda ya? aku mau merasakan salah satu ciptaan tuhan yang sempurna"

     Aku dan reza hanya bisa melempar senyum. Kami bahagia bila membuat mawar bahagia. kami mempersiapkan barang untuk acara bakar-bakar nanti malam. selain itu, aku juga mendirikan tenda untuk mawar. 

"Makasih adi cakep udah diriin tendaku"

    Mawar menggenggam tanganku  dan aku lagi-lagi berfikir perasaan apa ini? aku sudah sering merasakan tingkah mawar yang berujung membuat aku baper. Tetapi, hari ini berbeda hati aku semakin bergejolak untuk menyatakan perasaanku.

"Mau ngopi gak ?" aku mengajak mawar ngopi sambil melihat senja terbenam

"mau di, kita ajak eja juga ya"

 "eja lagi cari parkiran buat mobilnya"

"oh ya udah, kita duduk disana aja"

   Ditemani senja yang mulai turun, aku dan mawar duduk berdua menghadap danau yang tampak indah . Kami mengingat kembali kejadian lucu yang pernah terjadi didanau ini. Dengan kepala mawar yang mulai bersandar di bahuku. dia mulai nyaman bercerita sampai tiba waktu nya dia menceritakan soal perasaan hatinya.

"Adi kamu pernah gak memendam perasaan ke seseorang"

"pernah dong mawar!!"

"gimana rasanya pasti gak enak"

"ya gak enak, emang kenapa kamu lagi jatuh cinta tumben cerita masalah percintaan" Aku semakin penasaran dan terus memancing untuk mawar bercerita

"mungkin di"

"kenapa mungkin?" Kini mawar mulai nyaman untuk bercerita 

"aku takut di,aku takut cuma aku saja yang punya perasaan kedia"

    Apakah cerita mawar itu ditujukan kepadaku atau reza atau orang lain yang aku tidak tahu. Senja pun mulai menghilang, reza pun kembali. Belum selesai rasa penasaranku dengan cerita mawar, kami harus kembali ketenda. mungkin besok bisa seperti ini lagi itu harapku.

    Malam pun tiba, kami bercanda gurau didepan kayu yang sedang dilalap sijago merah. Meminum coklat hangat ditengah kedinginan danau. kami kembali bernostalgia pada masa kuliah hingga cerita pun mulai berpindah ke masa depan.

"eja adi, kalau kita masing-masing udah nikah bisa gak kita seperti ini lagi? mawar bertanya.

"tergantung nikah nya sama siapa, kalau sama kamu bisa dong mawar" ujar reza sambil tertawa.

"ih eja, aku serius loh, kamu gimana di?"

"aku sih bisa aja kan seru kalau bawa keluarga masing-masing" tanggapku yang masih merasa kaget jawaban reza tadi.

    Apakah benar reza juga mempunyai perasaan lebih kepada mawar? apakah dia juga akan mengungkapkan perasaannya? aku melihat wajah mawar ketika mendengar ucapan reza biasa saja.

"emang nya kamu udah mau nikah mawar" tanya reza 

"ya enggaklah kalian berdua itu harus nikah dahulu" 

"siapa tau kamu udah siap buat nikah, aku siap kok ngelamar" lagi dengan tertawa kecil yang aku tidak tahu itu serius atau hanya candaan.

"apa sih bahas nikah, kita sukses dulu sama-sama baru mikirin rencana nikah"

    Aku mengalihkan pembicaraan karna melihat mawar yang tidak nyaman dengan candaan reza. Dibawah bulan yang sedang fit dengan mengeluarkan cahaya terangnya kami bercerita panjang, tertawa riang sampai mata pun tidak tahan menahannya.

"udah jam 2 ni, tidur yuk aku udah ngantuk" dengan tingkahku yang sepanjang cerita selalu menguap.

"iya besok kita bangun pagi" ujar mawar.

"tapi aku mau buang air kecil kalian tunggu sini." kata reza yang buru-buru ketoilet.

    Sambil menunggu reza, aku memberanikan diri bertanya kepada mawar. bagaimana bila ucapan reza itu serius ingin menikah dengan dia.

"ya enggaklah di, reza itu selalu bercanda soal itu,kita tahu juga dia banyak sekali dekat sama perempuan" jawab mawar sambil menyeduh coklah yang sudah tidak hangat lagi.

    Begini lah mawar, perempuan yang sangat sulit terbuka soal apapun, apalagi soal cinta. Jawaban yang sulit ditebak dari mawar. reza kembali dari buang air kecil dan kami pun kembali ketenda masing-masing.

"Selamat tidur dan selamat malam pangeran-pangeranku"ucap mawar yang langsung masuk ketendanya.

    Pagi pun datang, aku dan reza terbangun mendengar panggilan mawar dari luar tenda. ternyata dia bangun lebih dulu dari kami. Aku dan reza bergegas cuci muka sedangkan mawar mempersiapkan kopi hangat dan sarapan untuk kami. Kami kembali bercengkrama di tepi danau menghayati embun danau yang sejuk.

    Setelah tidak lama duduk bersama di tepi danau kami berencana mandi. dikarnakan mandinya harus bergantian mawar pun meminta pertama untuk mandi yang katanya air hangat. Aku dan reza pun tinggal berdua dan dia bertanya.

"apakah kamu ada perasaan ke mawar?" aku hanya diam mendengar pertanyaan reza yang aku rasa itu sulit.

"kenapa mawar tidak pernah bercerita soal cinta ya? tanya reza kembali.

"bisa jadi itu privasi dia, kan kita tau mawar pernah sangat patah hati ketika diselingkuhin sama mantannya jadi sekarang dia tertutup untuk soal cinta" jawabku.

    Sepanjang aku dan reza berbicara kami selalu menutupi perasaan suka ke mawar, sekarang aku merasakan kalau reza juga menyukai mawar. Tetapi, itu tidak akan menjadi alasan untuk aku menunda kembali rencanaku. 15 menit pun berlalu mawar telah selesai mandi, dengan menggunakan sweater coklat yang ia beli setahun lalu ,dia tampak sempurna hari ini.

    Reza meninggalkan aku dan mawar, karna dia ingin merasakan juga mandi air hangat. aku berfikir ini kesempatan aku mengungkapkan perasaanku. aku meminta izin ke mawar kembali ketenda untuk mengambil bunga mawar  berwarna jingga kesukaannya.

" mawar aku ada sesuatu buat kamu" dengan menyembunyikan bunga mawar dibelakang badanku.

"apaan di?"

"tapi kamu tutup mata"

"kenapa harus tutup sih," mawar pun menutup matanya. dan aku pun mengatakan sejujurnya ke mawar.

"mawar hari ini aku mau jujur soal perasaanku, aku sayang kamu" dengan diawali menghela nafas aku memberanikan diri.

"iya aku juga sayang sama kamu adi, tapi kamu mau kasih sesuatau apa? jangan buat penasaran dong"

"aku sayang kamu bukan sebagai sahabat tetapi sebagai calon pendamping" aku menyalurkan bunga mawar jingga dihadapan dia

    Mawar pun terkejut dan membuka matanya. dengan wajah membingungkan dia memandangku.


"apa-apaan ini kamu mau nembak aku!!"

"iya aku sudah tidak bisa lagi memendam perasaan cinta yang sudah lama."

"kenapa harus aku di? aku sayang kamu hanya sebagai sahabat , aku tidak mau kita saling ada perasaan" aku merasakan hawa marah diwajah mawar yang sebelumnya aku puji dia sempurna.

"karna aku cintanya sama kamu mawar. apakah seorang sahabat tidak boleh mencintai sahabatnya sendiri" aku meyakini perasaanku kepada mawar.

"nggak di, kita tidak boleh ada perasaan apapun karna itu bisa membuat persahabatan kita akan hancur di" dia menggelengkan kepala sembari tidak yakin dengan apa yang aku lakukan.

"kenapa? karna kamu memilih reza dari pada aku" aku mulai mengeluarkan suara yang lebih keras kepada mawar.

"bukan, ini bukan karna aku memilih reza tapi karna persahabatan" jawab mawar yang tersinggung dengan suara kerasku.

"aku cinta sama kamu mawar !!!" suaraku makin keras.

"tapi aku cintanya sama orang lain !!!" Jawab mawar dengan lantang membalas suara kerasku.

     Ucapan terakhir itu membuat aku terdiam, aku merasakan kekecewaan yang sangat mendalam. Mawar pergi meninggalkanku dengan wajah kesalnya. aku sekarang hanya termenung memandang wajahku  di danau. Apakah aku salah mengungkapkannya? apakah setelah ini kami akan masih bersahabat?

    Menyakitkan rasanya ketika kamu memiliki seseorang dihatimu, namun tidak dalam dekapanmu. 

"Ku petik bunga mawar jingga
hanya semata kau dibuatnya 
tak sadarkan durinya terluka diakhirnya  
mencinta tanpa tahu akibatnya".

    Kenapa aku tergoda dengan perhatian lebih yang selalu dia berikan kepadaku. yang aku anggap itu bukan perhatian sebagai sahabat. selintas aku berfikir dia tidak pernah mengingat tentang aku, aku selalu mengingat.

    Setelah kejadian itu perasaan lega dan menyesal menjadi satu, lega akhirnya aku berani mengungkapkan semua perasaanku, menyesal kenapa aku mengungkapkannya yang akan membuat aku dan mawar semakin jauh.

    Reza pun datang, dia bertanya kemana mawar. Aku yang menjawab seolah tidak terjadi apa-apa sebelum ini. Reza menghampiri tenda mawar. 

"mawar...mawar"

"iya ada apa za" terlihat wajah kekecewaan mawar.

''kamu kenapa?" tanya reza.

"gak apa apa, buruan pulang yuk aku banyak kerjaan ini"

"kok gitu kan rencana sore kita pulang nya"

"sekarang aja za, aku udah beresin baju juga"

"oh yaudah kita tunggu adi mandi dulu ya"

     Kami bertiga pun membereskan barang-barang. Aku dan mawar hanya saling diam tanpa tegur sapa dan menganggap tidak ada terjadi apa-apa. setelah semuanya beres kami langsung bergegas pulang. Ditengah jalan aku dan mawar hanya diam tanpa mengeluarkan satu katapun berbeda dengan sewaktu pergi.

"Kalian kenapa sih pada gak semangat, gak seru campingnya" tanya reza.

"seru kok ja, lagi capek aja ni jadi butuh istirahat" jawab mawar dengan tidak memandang wajahku.

"terus adi kamu kenapa tumben diam"

"sama ja, aku capek juga ngumpulin tenaga untuk tulisan selanjutnya"

    Semenjak kejadian itu aku tidak pernah lagi untuk pergi bersama mawar, sekarang dia pergi ke kantor di jemput oleh reza. Dan reza bingung kejadian itu, dia bertanya dan aku hanya beralasan mungkin dia bosan dengan vespaku. firasatku benar, aku dan mawar kini makin menjauh seperti orang tidak kenal satu sama lain, dan setiap reza mengajak kami untuk hangout mawar mempunyai alasan kesibukan .

    Kini bunga mawar jingga telah layu digantikan oleh kaktus yang durinya menusuk hati.
    





    




    




    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman : Hari Pertama Menjauh dari Instagram Dan Facebook

Assalamualaikum Wr.Wb.      Perkenalkan Nama saya Muhammad Ilham Akbar saya mahasiswa di salah satu kampus di yogyakarta. disini saya ingin menceritakan bagaimana saya belajar untuk tidak menggunakan Instagram & facebook. saya sudah menonaktifkan Instagram sementera dan menonaktifkan Facebook selamanya.      Alasan Saya ingin berpuasa media sosial terutama Instagram dan facebook karna saya merasa selama bermain media sosial tersebut saya selalu insecure terhadap diri saya sendiri. saya selalu iri melihat pencapaian orang lain yang di upload di media sosial. apalagi setelah mengambil keputusan untuk berhenti kuliah di semester 7 dan mengulang kembali kuliah di yogyakarta. Instagram dan Facebook banyak menghabiskan waktu kita yang kosong. padahal di media sosial tersebuk kita hanya kepo terhadap oranglain dan mendapatkan informasi yang belum tentu benarnya apalagi dibidang politik. dan itu salah satu alasan saya juga belajar untuk jauh dari media sosial i...

Pengalaman : The end & I am Back Social Media

Assalamualaikum Wr.Wb      Hari ini terakhir puasa medsos dan aku disini mau cerita aja pengalamannya, aku juga kemaren gak nulis buat harikelima sama keenam karna ya itu kegiatannya sama aja seperti hari-hari lain its flat.           Kemaren juga aku lagi nulis tentang keengganan aku berurusan sama politik, aku seneng loh baca tulisan aku sendiri tentang politik, mungkin karna puas aja akhir keresahan aku selama ini bisa aku sampaikan. itu aja masih kurang sih, masih banyak lagi ingin aku tulis tapi takut kepanjangan jadi aku pengen cerita di next tulisan aja.            oh iya selama 3 hari kemaren aku masih sibuk cari ide buat tulisan, banyak rencana yang ingin aku tulis tapi masih rencana sih, soal nya aku keseringan rencana tapi gak ada usaha wkwk. ya semoga dewa malas tidak menghampiri diriku.          Aku kemaren juga buat wordpress cuma masih ribet aku pakai perlu belajar, na...